PRIMADONA ELIT POLITIK



Mungkin dalam waktu yang tidak berapa lama lagi, kita, khususnya Aceh kembali akan melaksanakan pesta demokrasi dalam rangka pemilihan kepala daerah, baik di tingkat satu maupun tingkat dua. Isu mengenai siapa-siapa yang akan mencalonkan diri menjadi pemimpin nantinya sudah mulai terdengar bahkan diperbincangkan, mulai dari perkotaan sampai ke pelosok-pelosok desa terpencil sekalipun.

Berbicara pemilihan langsung, sudah pasti tidak akan terlepas dari pembicaraan tentang masyarakat banyak yang merupakan faktor utama dalam hal pemenangan di saat pemilihan nantinya. Dan juga sudah bisa dipastikan pemilih terbanyak itu berasal dari kalangan masyarakat biasa, baik yang di perkotaan lebih-lebih lagi di pelosok-pelosok desa, baik yang mengerti politik maupun yang super awam tentang perpolitikan. Nota bene nya, masyarakat kita adalah yang memiliki jenjang pendidikan yang seala kadarnya, juga taraf kehidupan yang biasa-biasa saja dari satu tahun ke tahun selanjutnya.

Menarik perhatian kita, di saat-saat menjelang pesta demokrasi ini, rakyat-rakyat biasa ini menjadi individu-individu yang mempesona. Pembicaraan mereka disimak dan diperhitungkan para elit calon kandidat, walaupun normalnya tidak demikian adanya. Walaupun mereka tidak pernah mengerti politik, tapi menjelang pesta demokrasi ini banyak juga mereka yang berlagak bak politikus kelas kakap. Mereka bisa berbicara diatas standar rata-rata, mereka bicara perubahan seakan-akan perubahan itu semudah membalikkan telapak tangan. Dan ini bukan sejatinya kebanyakan masyarakat kita, tapi ini seakan-akan bagaikan refleksi dari sesuatu yang baru ditemui di satu dua orang.

Penting sekali memang masyarakat kita mengerti dan diajari politik, tapi yang disayangkan bila mereka dipolitisir untuk mendapat sesuatu yang bersifat pribadi, demi meraup keuntungan pribadi, sedangkan mereka tidak pernah terperhatikan dengan baik setelahnya, selalu saja mereka dimarginalkan dari satu pemilihan ke pemilihan selanjutnya. Padahal setiap kali pemilihan, pasti slogan memberantas kemiskinan selalu saja menjadi tema utama setiap elit yang maju. Namun akhirnya, lagi-lagi rakyat biasa menjadi korban bujuk rayunya elit politik. Paling mereka cuma berkata “ka meuramah loem tanyoe”.

Rakyat memang sangat mudah terpana dan terpesona dengan janji-janji manis, walaupun sejarah telah sangat kenyang dirasakan sebelumnya. Mereka juga sadar saat-saat seperti ini merupakan saatnya elit-elit politik yang ingin mencalonkan diri nantinya sedang gencar-gencarnya mencari dan berusaha dekat dengan mereka, namun apakah mereka untuk saat sekarang ini bisa memilih dan memilah siapa gerangan sosok yang semestinya dipilih untuk menjadi pemimpinnya nantinya?, itu yang sulit untuk terjawabkan.

Kandidat yang berencana untuk maju, sudah mulai melirik peluang untuk menembus ranjau-ranjau penghalang, minimal merintis jalan untuk bisa tempus ke sasaran. Semua bicara keadilan merata, kemakmuran rakyat, pemberantasan kemiskinan, mencetak lapangan kerja dan sebagainya. Bahasa-bahasa seperti ini memang memiliki nilai jual tinggi bagi masyarakat. Ibarat lagi musim durian, semua komentar duriannya yang paling bagus, isinya tebal, rasanya manis dan sebagainya. Namun apakah masyarakat bisa jeli untuk menentukan mana yang baik dan mana pula yang tidak baik, semua terserahkan kepada masyarakat itu sendiri, sejarah bukan hanya perlu diungkap tapi juga perlu untuk diingat. Jatuh ke lobang yang sama, maka berarti membunuh diri sendiri. Bila kita memilih durian karena sesuatu (luarnya saja) tapi buka karena sesuatu (isinya), maka bukan saja kita telah merugikan diri sendiri dan anak isteri, tapi juga menjadi sampah bagi masyarakat banyak.

Masyarakat biasa adalah target utama elit politik untuk memberikan dukungan dan suaranya kepada mereka saat pemilihan, karena memang masyarakat biasalah yang mendominasi peserta pemilihan disamping yang lainnya, mereka juga sering dijadikan audien setia dari pidato elit politik, begitu renyah para elit berkhutbah tentang kesejahteraan rakyat, pemberantasan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja, sekan sudut kepedihan dan kemiskinan rakyat telah punah dari pandangan mata. Kepedihan rakyat yang bekerja banting tulang mencari nafkah setiap hari, bisa disulap seakan-akan menjadi kehidupan para elit juga, sehingga rakyat terbuai dan kembali tergoda dengan bujuk rayu para elit. Lidah mereka serasa begitu akrab dengan hidangan dari rakyat saat kedatangan mereka di satu pedesaan, walaupun cuma sambal terasi atau daun ubi yang merupakan makanan pavorit rakyat kecil dari satu pemilihan ke pemilihan yang lain yang belum bisa tergantikan sampai saat ini.

Inilah saatnya orang miskin menjadi idola, buah bibirnya para elit. Semua elit membelai mereka dengan kasih sayang dan janji-janji manis. Sejenak memang tidak sedikit masyarakat kecil yang bisa mengadu langsung kepada elit terhadap keluhan-keluhan yang dialami, sebab pintu rumah mereka senantiasa terbuka lebar untuk masyarakat luas, dan itu menjadi pengobat rasa ingin perubahan di hati rakyat sekalipun janji realisasinya di saat mereka terpilih menjadi pemimpin tidak ada jaminan sama sekali. Mendadak rakyat kecil menjadi tamu-tamu diskusi elit membahas dan membeber tema kemiskinan yang sebelumnya sangat susah untuk ditemui, merancang bersama strategi untuk memutuskan rantai kemiskinan. Lagi-lagi, rumah orang miskin di perkampungan menjadi tempat berteduhnya elit, tempat persinggahan sementara. Engkau primadona!

Keberpihakan kepada rakyat kecil ditunjukkan dengan melebur sampai ke akar-akarnya. Masyarakat terpana dan terpesona mendengarnya, seakan-akan wajah perubahan sudah sejengkal dengan mereka, rasa lelah menjadi buruh kasar sejak lama karena tidak diterima menjadi pekerja yang lebih layak karena faktor pendidikan yang rendah, seketika hilang dibuai pidato elit. Semua aspirasi masyarakat ditampung untuk dilaksanakan saat dalam kepemimpinannya nanti, janji membikin jalan, jembatan, peningkatan mutu pendidikan dan sebagainya semua seakan menjadi prioritas para elit, tapi berangkat dari pengalaman, rakyat hanya sebagai tempat persinggahan sementara. Dang-dang menang tadengo bandum, singoeh laen takira (Tampung semua buat sementara, nanti lain lagi ceritanya).

Jangan heran bila sering mendengar rakyat berkomentar, “dia mau jadi presiden, gubernur, bupati, saya tetaplah menjadi saya yang seperti ini, ngak ngaruh”. Sebagian menganggap ini kata-kata orang yang pendek cara berpikir (Paneuk antene). Tapi inilah yang mampu mereka utarakan sebab mereka tidak bisa berkomentar lebih baik seperti pemimpin-pemimpinnya. Dan ini merupakan kata-kata yang keluar dari alam bawah sadar mereka, karena seringnya impian perubahan yang dilontarkan, tidak pernah tersentuh sebagaimana perjanjian awal dengan mereka saat kampanye, janji dibuat jalan bahkan sampai akhir periode masa jabatan masih saja rakyat menempuh perjalanan sepuluh kilometer dengan waktu satu jam lebih kurangnya, bedanya dengan di Jakarta mereka menempuh dalam waktu satu jam karena faktor kemacetan, tapi rakyat dikampung karena jalanan mereka memiliki kolam-kolam renang kecil di badan jalan, sehingga kata-kata seperti ini keluar sendirinya tanpa mereka sadari. Kita tidak bisa bersembunyi dari ini, bila tetap dipaksakan untuk dibantah, maka ibaratnya kita sedang bersembunyi dibalik jala (meusom lam jeu).

Rakyat tidak butuh janji muluk, yang dibutuhkan perubahan dan implementasi nyata. Buat apa janji semanis madu, tapi tidak pernah tersampaikan, lebih baik janjikan kepada mereka yang biasa-biasa saja yang mudah untuk dilaksanakan, rakyat pun tidak terlalu menaruh harapan besar terhadap hal yang sangat sulit untuk dilaksanakan. Berikan kami (masyarakat) harapan yang mampu untuk dilaksanakan, jangan janjikan kami gunung emas tapi imitasipun tidak pernah kami dapatkan. Sampaikan keinginan yang datang dari hati yang tulus untuk masyarakat, jangan menghujat dan memojokkan pihak lain yang juga maju sebagai kandidat, dan biarkan masyarakat memilih dengan hati nuraninya, jangan beli kami dengan peng grik, biarkan kami memilih pemimpin kami tanpa ada embel-embel apapun selain keteladannya.

Kami ucapkan selamat berdemokrasi yang sehat, semoga akan mendatangkan perubahan nyata di masyarkat banyak. Harapan kami (masyarakat) sekali lagi, kami yang akan mengantarkan anda ke kursi empuk dan istana pendopo, namun jangan sampai mengabaikan kami dengan segudang rindu akan perubahan. Jangan sampai nantinya engkau berlalu di akhir masa jabatan dengan segudang uang kami dan kemewahan duniawi yang mempesona. Jangan sampai kami kembali bernyanyi “Engkau yang berjanji, engkau pula yang ingkari”

Penulis : Mahasiswa asal Aceh, kuliah di Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar yang baik insya Allah tidak akan membuat kebanggan dan begitu juga mudah-mudahan komentar yang memojok dijadikan bahan intropeksi...